Minggu, 10 November 2013

Hubungan Air, Tanah, dan Tanaman

Dalam kaitannya dengan budidaya pertanian, tanah adalah tempat atau media dimana akar tanaman tumbuh dan menyerap air juga unsur hara. Tanah tersusun dari 4 komponen utama yang antara lain bahan mineral, bahan organik, air, dan udara.ke-empat bahan tersebut bersatu untuk kemudian membentuk agregat tanah. Agregat yang terbentuk didalamnya pastilah terdapat ruang pori yang dapat ditempati oleh air dan udara. Ruang pori tersebut dalam istilah ilmu tanah dikenal dengan istilah pori tanah. Pori tanah yang berukuran kecil disebut pori mikro, sedangkan yang berukuran besar disebut pori makro.


Hubungan Air, Tanah, dan Tanaman

Air dan udara di dalam tanah sangat membantu pertumbuhan tanaman, karena seperti kita ketahui bahwa tanaman dalam berfotosintesis memerlukan ke dua dzat tersebut. Kendatipun demikian, keberadaan air dan udara didalam tanah saling bersifat komplemen dan sangat mempengaruhi pertumbuhan tanaman. Tanah yang mengandung banyak air memiliki kandungan udara yang sangat sedikit karena hampir semua pori tanah diisi oleh air. Begitupun sebaliknya, tanah yang mengandung banyak udara akan memiliki kandungan air yang sedikit pula. Komposisi air dan udara dalam menempati pori tanah haruslah berimbang sesuai dengan kebutuhan jenis tanaman yang ditanam.

Dalam kaitannya dengan budidaya pertanian, hubungan keterikatan antara air dan udara di dalam tanah mengenal 3 istilah penting yang antara lain:
Kondisi jenuh air adalah kondisi dimana tanah sudah tidak mampu lagi menampung air ke dalam porinya. Contoh sederhananya adalah ketika kita menuangkan air ke dalam pot bunga dalam jumlah yang berlebih, sebagian air akan keluar melalui lubang yang ada di bagian bawah pot. Ketika itulah kondisi tanah di dalam pot disebut dengan kondisi jenuh air. Pada kondisi ini, hampir semua pori tanah diisi oleh air, sedangkan udara terdesak keluar dari pori tanah.

Kondisi Jenuh Air

Pada umumnya kondisi jenuh air tidaklah dikehendaki oleh sebagian besar tanaman, kecuali tanaman-tanaman yang memang habitatnya di air atau di rawa. Kondisi jenuh air tak jarang menimbulkan kerugian bagi tanah maupun tanaman. Kerugian-kerugian tersebut antara lain :
  1. Menyebabkan kandungan udara dalam tanah maupun sirkulasinya terhambat sehingga akar tanaman kekurangan oksigen.
  2. Memperlambat adsorbsi unsur hara oleh akar tanaman.
  3. Menekan pertumbuhan mikroorganisme tanah yang bersifat aerob.
  4. Menimbulkan zat-zat kimia yang dapat meracuni tanaman seperti metana (CH4), N2 berlebih, Fe++, dan Mn++.
  5. Memperlambat dekomposisi bahan organik tanah.
 
 
Kapasitas lapang adalah kondisi ketika komposisi air dan udara di dalam tanah berimbang. Kondisi ini dapat kita lihat seperti pada contoh pot yang telah disiram air hingga jenuh yang mengentaskan semua air hingga tak ada lagi air yang keluar dari lubang yang terdapat pada bagian bawah pot. Hampir semua tanaman menyukai tanah pada kondisi kapasitas lapang.

Kapasitas Lapang

Dalam kondisi kapasitas lapang, udara menempati pori makro tanah sedangkan air hanya terdapat dalam pori mikro tanah. Air yang terdapat dalam pori mikro tanah tersebut dikenal dengan istilah air tersedia atau air perkolasi. Air tersedia adalah air yang dapat diambil oleh tanaman, terdapat di antara kondisi kapasitas lapang dan kondisi titik layu permanen. Air tersedia berbentuk larutan yang mengandung berbagai unsur hara yang diperlukan untuk pertumbuhan tanaman. Kemampuan tanah untuk menyimpan air tersedia sangat dipengaruhi oleh struktur pembentuk tanah tersebut yakni liat, lempung, dan pasir.

Struktur tanah yang liat merupakan struktur tanah yang mampu menyimpan air tersedia dalam jumlah yang paling banyak. Sedangkan struktur tanah yang pasir merupakan struktur tanah yang hanya mampu menyimpan air tersedia dalam jumlah yang sedikit. Untuk memperoleh tanah yang baik untuk pertumbuhan, kebanyakan petani melakukan manipulasi iklim mikro tanah dengan mencampurkan tanah struktur liat, pasir, dan kompos dengan perbandingan tertentu.
 
Air di dalam tanah dapat berkurang karena adanya evaporasi (penguapan), perkolasi, dan penyerapan air oleh akar tanaman. Bila dalam jangka waktu tertentu tidak ada penambahan air ke dalam tanah baik itu oleh hujan maupun irigasi, tanah akan segera mengering dan menunjukkan dampak negatif pada pertumbuhan tanaman yang dibudidayakan. Pengaruh negatif tersebut tak lain adalah kekeringan tanaman.

Titik Layu Permanen

Dampak negatif berupa kekeringan tidak terjadi secara langsung, melainkan melalui beberapa tahapan yakni pertama tanaman akan mengalami kondisi layu sementara, artinya ketika siang hari tanaman akan terlihat layu sedangkan ketika malam menjelang, tanaman akan kembali segar. Kondisi layu sementara jika dibiarkan akan mengakibatkan tanaman mengalami kondisi layu permanen, artinya tanaman akan tetap layu hingga mengering dan meski diberikan air tanaman tidak akan kembali segar.
 
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar